Banjarmasinpost.co.id
Sabtu, 13 Maret 2010 | 27 Rabiul Awal 1431 H
Katanya Cuma Batu Kecubung Air
Rabu, 10 Februari 2010 | 08:59 WITA
Dibaca 26 kali
Cetak Artikel
Cetak Artikel

MARTAPURA, RABU - Pasrah, berserah kepada Allah. Itulah yang dilakukan Bachtiar (46) dan tiga penemu batu yang diduga intan 70 karat di pendulangan Desa Jati Baru Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, Sabtu (6/2/2010).

Pasalnya dari keterangan beberapa pakar penggosok di Kecamatan Cempaka, batu temuan Bachtiar dan kawan-kawan itu bukanlah intan, melainkan hanya batu kecubung.

"Katanya kecubung air atau kecubung minyak. Tapi H Bain, pemilik lahan pendulangan kami, masih penasaran dan saat ini mencoba memeriksakan lagi kepada ahli intan di Martapura," ujar Bachtiar kepada Metro, Selasa (9/2/2010).

Dituturkannya, penggosok intan asal Cempaka itu telah mengupas batu tersebut, namun hanya bagian permukaannya saja.

"Karena itu, untuk lebih menyakinkan, H Bain membawa batu itu ke Habib Abdullah, Ketua Persatuan Pedagang Intan di Martapura. Insya Allah beliau bisa memastikan itu intan atau bukan," kata Bachtiar.

Kalau pun batu tersebut bukan intan, Bachtiar mengaku tidak masalah. Dia legowo dan siap menerima kenyataan itu. "Saya akan tetap bekerja seperti biasa. Pagi berdagang pisang di Pasar Astambul, siang sampai sorenya mendulang intan bersama putra dan saudara saya," ucapnya mantap.

"Semoga saja pada suatu hari nanti saya mendapatkan batu yang benar-benar intan," harapnya.

Dihubungi secara terpisah, Habib Abdullah mengakui ada mendengar penemuan batu yang diduga intan di Pendulangan Desa Jati Baru. Tetapi, dia sendiri belum melihat batu tersebut karena memang belum ada yang datang memeriksakan kepadanya.

"Sampai sekarang belum ada yang datang memperlihatkan batu tersebut karena saya juga baru tiba dari Jakarta. Memang besar kalau ukurannya 70 karat, saya juga ingin melihatnya," kata Habib.

Disinggung pendapat penggosok intan yang menyebutkan batu itu hanya kecubung, Habib mengakui bila kecubung memang sangat mirip bentuk dan rupanya dengan intan yang asli. "Jadi kalau hanya melihat sepintas batu kecubung memang mirip sekali dengan intan," ujarnya lagi.

Perbedaan intan dan kecubung, sambungnya, pada kekerasannya. Kalau intan untuk mengupasnya memerlukan peralatan khusus, sedangkan kecubung cukup digosok dengan peralatan biasa.

"Kalau digosok dengan peralatan biasa sudah terkupas, maka itu jelas kecubung. Kalau, digosok peralatan biasa tidak bisa, itu baru bikin heboh," jelasnya.

Seperti diberitakan Metro, empat pendulang bersaudara asal Desa Astambul Seberang menemukan batu yang diduga intan 70 karat  di Desa Jati Baru, Kecamatan Astambul, Sabtu (6/2/2010) sekitar pukul 15.00 Wita.

Keempat pendulang yang beruntung mendapatkan batu diduga intan yang ditaksir bernilai Rp 20 miliar tersebut adalah Bachtiar (46), Mukhtar (53), Ikramah serta Muhamad Rif'an.

Dari perkiraan awal sejumlah pendulang, batu sebesar telur burung puyuh itu 50 persen intan.

(wid)

Dapatkan kabar Banua terbaru di genggaman anda di: http://banjarmasinpost.co.id/mobile di mana saja melalui ponsel anda
Bermasalah dengan Langganan Koran?
Hubungi : 0811 5000 117 atau Telepon: 0511 (3354370)

PEMBACA setia BPost, silakan sampaikan keluhan, saran dan kritik Anda terhadap public service atau masalah pembangunan di banua kita, secara singkat, cerdas dan santun melalui SMS ke nomor (0511) 7445000. Caranya: Ketik HOT (isi SMS Anda)

Keep this article in your social bookmark:

Baca Juga Berita Lainnya
POSTING KOMENTAR ANDA:
Nama (required)
Email (required)
Alamat
Isi Komentar
Security Code (required)
Disclaimer : Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort