SASIRANGAN sebagai ikon Kalsel terus diimbau untuk dikenakan dan membumi seperti batik. Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Budaya pun semakin gencar mewajibkan instansi memakai seragam dari kain sasirangan ini.
Peluang ini rupanya ditangkap dengan cermat oleh pihak perhotelan di Banjarmasin.
Jajaran manajemen Rattan Inn menangkap ini sebagai peluang untuk menunjukkan identitasnya.
Alhasil, dari coretan-coretan desain ala Rattan Inn pun menghasilkan motif yang berbeda. Motif bunga rotan berpadu dengan motif watun atau gigi haruan (gigi ikan gabus) menjadikan desain sasirangan ini lebih variatif.
Hasilnya, kain sasirangan juga terlihat simpel, modern, juga elegan, namun tidak meninggalkan kekhasan Banua. Ini terlihat lebih menarik dan berkembang dinamis dari asal mula fungsi kain sasirangan.
Motif khas tersebut melekat di bagian punggung. Juga ada di lengan. Sementara di bagian depan tampak simpel dengan tidka terlampau banyak corak, seperti kain sasirangan yang kebanyakan dipakai.
Perlu diingat, sebelumnya sasirangan hanya dikenal sebagai kain penolak bala untuk penyembuhan (batatamba) yang harus dipesan khusus terlebih dahulu (pamintaan).
Sasirangan merupakan kain sakral warisan abad XII saat Lambung Mangkurat menjadi Patih Negara Dipa.
(anita k wardhani)
| Sabtu, 6 Maret 2010 | 12:05 WITA Sabtu, 27 Februari 2010 | 11:23 WITA Sabtu, 27 Februari 2010 | 11:21 WITA Sabtu, 20 Februari 2010 | 19:42 WITA Sabtu, 13 Februari 2010 | 13:39 WITA Rabu, 10 Februari 2010 | 15:40 WITA |