SEBUAH pertanyaan mendasar diajukan film Emak Ingin Naik Haji (EINH) ini: apakah memang pergi naik haji itu hanya untuk orang yang mampu secara finansial? Lalu bagaimana nasib muslim atau muslimah yang sangat ingin menunaikan ibadah haji tapi terbentur pada keterbatasan finansial?
Logika manusia tentu akan menyebut niatan mulia itu sebagai hal yang musykil, terlebih biaya naik haji belakangan ini semakin melangit. Tapi, hidup memang tak diatur sekadar oleh logika manusia. Ada ‘tangantangan tak terlihat’ yang siap melapangkan jalan untuk segumpal tekad yang membara demi sebuah niat yang sungguh mulia.
Film ini diadaptasi dari cerpen dengan judul serupa karya cerpenis Asma Nadia terbitan AsmaNadia Publishing House.
Sebagaimana layaknya ketika sebuah cerpen diadaptasikan ke dalam layar lebar, ada banyak pengurangan, juga penambahan adegan demi kepentingan visualisasi. Untunglah, sutradara Aditya Gumay dengan brilian bisa tetap menghadirkan roh dari cerpen tersebut ke dalam karyanya ini.
Visualisasi yang cemerlang itu misalnya saat dialog antara si Emak (Ati Kanser) dengan enggan anaknya, Zein (Reza Rahardian). “Kalau jalan kaki (ke Makkah- Red), berapa jauh Zein?” katanya. “Zaman sekarang kagak mungkin, Mak,” jawab Zein. “Masjidnya bagus di sono, ya Zein? Lampunya banyak,” kata Emak terkekeh. “Eh, berape sekarang ongkosnya, Zein?”
Juga nampak kepasrahan Emak yang tidak yakin bisa ke Makkah. “Mungkin raga Emak tidak bisa menyeberangi lautan yang luas untuk sampai ke tanah suci. Tapi Emak yakin, Allah tahu jiwa Emak sudah lama ada di sana,” kata Emak. Sebuah dialog yang menyentuh dan membuat haru.
Adegan ini sangat memikat. Dan mengaksentuasikan kelebihan film dari cerpen yang tak bisa memvisualisasikan ekspresi terdalam dari seseorang. Nada suara datar dengan ekspresi penasaran sekaligus keinginan yang besar bagi Emak, seolah mampu mewakili perasaan penonton yang memang belum pernah, dan ingin berangkat ke tanah suci --sekaligus juga belum mampu secara finansial.
Jalan cerita terbilang sederhana, dengan alur yang runut. Apalagi didukung para pemain kawakan.
Menariknya lagi, cerita diimbuhi dengan subplot yang saling berjalin, yaitu cerita orang kaya yang bisa naik haji dan umrah berkali-kali serta pengusaha kaya yang berniat naik haji demi mendapat gelar haji untuk bekal pilkada.
Sindiran tajam, sekaligus protes terhadap ketidak-adilan sosial.
Sejumlah lagu syahdu yang dinyanyikan para senior di bidangnya, Iwan Abdurrahman, Ki Slamet Gundono dan Haddad Alwi yang berkait dengan cerita mampu menyentuh hati penontonnya.
Ketika naik haji masih jadi sebuah impian bagi sebagian besar kaum muslim di Indonesia, kehadiran film ini sungguh memberi inspirasi. Dengan gayanya sendiri, film EINH ingin menegaskan bahwa memang banyak jalan menuju Makkah.
Sepanjang niat kita benar-benar suci, dan kita sudah bekerja keras, maka hal yang sepertinya musykil itu pasti terwujud. Insya Allah. (Persda Network/esy)
Judul Film Film: Emak Ingin Naik Haji
Produksi : MIZAN PRODUCTIONS & SMARADHANA PRO,
Penulis Skenario : Adenin Adlan, Aditya Gumay
Produser : Putut Wijanarko, Adenin Adlan
Sutradara : Aditya Gumay
Pemain Pemain:
Emak : Aty Kanser
Zein : Reza Rahadian
Juragan Haji (H. Saun) Saun): Didi Petet
Istri Juragan Haji (Hj.
Markonah) : Niniek L. Karim
Special Appearance
Ustadz: Jefri Al Bukhori
| Kamis, 11 Maret 2010 | 18:05 WITA Rabu, 10 Maret 2010 | 16:52 WITA Selasa, 9 Maret 2010 | 21:49 WITA Selasa, 9 Maret 2010 | 11:37 WITA Senin, 8 Maret 2010 | 14:08 WITA Senin, 8 Maret 2010 | 13:06 WITA |